Rapid Hydrological Appraisal (RHA) in Ciliwung Watershed, West Java, Indonesia

22 12 2011

Author: Kaswanto (Dept. of Landscape Architecture, Bogor Agric. Univ. (IPB)

(This article copyrighted by ICRAF)

Background

Polemics caused by natural resources degradation in watershed area is still being a big concern recently. Therefore an urgent and huge step have to develop and overcome for the needs of stakeholders and public communites. One of the approach which has been done with quick problem solve related to hidrological condition in watershed area is Rapid Hydrological Appraisal (RHA). A ’rapid appraisal’ (the six-months period) in conducting this approach could help to improve the decision making process inside goverment structure to cooperate with short-periode of their policy (five years period). The RHA approach is very helpfull to construct early opinion about condition of water quality and quantity in watershed area. Degradation of water quality caused by pesticide over-utilization in upperstream, and also the increasing of water quantity caused by land use changing in watershed area were believed could to be approached by RHA analysis.

Basically, the RHA approach is tried to gather three types of knowledge function. In active discussion between upland (or upperstream) and lowland (or downstream) communities, public policy makers and scientists. Those three types knowledge were called as local ecological knowledge (LEK), policy ecological knowledge (PEK) and modellers ecological knowledge (MEK). The negotiation would be accomplished between those multiple stakeholders as part of ’Rewarding Upland Poor for the Environmental Services the provide’ (RUPES) mechanism, to find out how the rewards can be channelled effectively and to enhance or at least to maintain the function each natural resources sustainly. They could sit together to solve the problems with the best decision in the past, present, or in the near future. And then, let hopes that the four aspects of RUPES mechanism, i.e. value, threat, opportunity and trust could be enable to increasing an appraisal of opportunities in negotiating for sustainable watershed function in eco-centric aspect. Again, let believe that the rapid result from RHA could help goverment (PEK) as a decision maker to conduct any regulation and action needed over a period of five years of their reign.

The aims for conducting the RHA approach are:

  1. To study the RHA approach as an alternative method for analysis the main factor causes degradation of hidrological condition in Upper-Middle Ciliwung Watershed area.
  2. To help construct an early opinion in the watershed function in understanding for three types of knowledge, i.e. LEK, PEK and MEK.
  3. To analyze quality and quantity of hydrological aspect as well that could be able to provide some instruments for downstream communities to appreciate upperstream communities.

 

Study Site

The research was conducted in Ciliwung Watershed that located in Bogor and Puncak Region and limited to upper and middle part which is covered by eleven sub-districts in upper stream and middle stream. There are six sub-districts were in Bogor District (Kabupaten Bogor), i.e. Cisarua, Megamendung, Ciawi, Sukaraja, Bojonggede and Cibinong. The rest of five sub-districts were in Bogor City (Kota Bogor), i.e. Bogor Selatan, Bogor Tengah, Bogor Timur, Bogor Utara and Tanah Sareal.

The Ciliwung Watershed delineation was based on contour level from digital elevation model (DEM) that was formed from topographical map of BAKOSURTANAL. This DEM have been used widely for many research activities in watershed scales. Location selection according to several considerations as follow:

  1. Republic of Indonesia Presidential Decree Number 114 year 1999 about Spatial Region Planning for Bogor – Puncak – Cianjur Region.
  2. Republic of Indonesia Government Regulation Number 47 Year 1997 about National Spatial Planning, Bogor – Puncak – Cianjur Region.
  3. Research Cooperation between Directorate General of Higher Education (DGHE) and Department of Landscape Architecture IPB under the Project of Graduate School Grant phase IV in 2006-2008 periods.
  4. Research cooperation between the University of Tokyo and IPB under the Research Unit for Biological Resources Development (RUBRD) in 1998 – 2007 periods.

 

Rapid Hydrological Appraisal (RHA)

The current RHA approach was conducted from a comprehensive ten main phases, framework analysis and watershed management developed by ICRAF-SEA as negotiation support system (NSS) (van Noorwidjk et. al. 2004). Detailed driven factor of RHA domains, i.e. landscape (L), socioeconomic relations – household level (S), watershed function (W), improved land use or agroforestry technology (A) and NSS itself were explained in RHA manual by ICRAF-SEA.

More detail please visit the source:

http://www.icraf.com/sea/projects/tulsea/siteslocation/detail/indonesia

If you have any questions and comments, please do not hesitate to write it below.





Sejarah Lagu MALAM KUDUS

21 12 2011

Kita tentu akan merasa sesuatu yang kurang kalau ada perayaan Natal  tanpa menyanyikan “Malam Kudus,” bukan? Terjemahan-terjamahan lagu Natal kesayangan itu sedikit berbeda satu dari yang lainnya, namun semuanya hampir serupa. Hal itu berlaku juga dalam bahasa-bahasa asing. Lagu itu begitu sederhana, sehingga tidak perlu ada banyak selisih pendapat atau perbedaan kata dalam menterjemahkannya. “Malam Kudus” sungguh merupakan lagu pilihan, karena dinyanyikan dan dikasihi di seluruh dunia. Bahkan musikus ternama rela memasukkannya pada acara konser dan piringan hitam mereka.

Anehnya, nyanyian yang terkenal di seluruh dunia itu sesungguhnya berasal dari sebuah desa kecil di daerah pegunungan negeri Austria.

Inilah ceritanya….

Orgel di gereja desa Oberndorf sedang rusak. Tikus-tikus sudah mengunyah banyak bagian dalam dari orgel itu. Seorang tukang orgel telah dipanggil dari tempat lain. Tetapi menjelang Hari Natal tahun 1818, orgel itu masih belum selesai diperbaiki. Sandiwara Natal terpaksa dipindahkan dari gedung gereja, karena bagian- bagian orgel yang sedang dibetulkan itu masih berserakan di lantai ruang kebaktian.

Tentu tidak ada seorang pun yang mau kehilangan kesempatan melihat sandiwara Natal. Pertunjukan itu akan dipentaskan oleh beberapa pemain kenamaan yang biasa mengadakan tour keliling. Drama Natal sudah menjadi tradisi di desa itu, sama seperti di desa-desa lainnya di negeri Austria.

Untunglah, seorang pemilik kapal yang kaya raya mempunyai rumah besar di desa itu. Ia mengundang para anggota gereja untuk menyaksikan sandiwara Natal itu di rumahnya. Tentu saja Josef Mohr, pendeta pembantu dari gereja itu, diundang pula.

Pada malam tanggal 23 Desember, ia turut menyaksikan pertunjukan di rumah orang kaya itu. Sesudah drama Natal itu selesai, Pendeta Mohr tidak terus pulang. Ia mendaki sebuah bukit kecil yang berdekatan. Dari puncaknya ia memandang jauh ke bawah, dan melihat desa di lembah yang disinari cahaya bintang yang gemerlapan. Sungguh malam itu indah sekali…. malam yang kudus….malam yang sunyi….

Pendeta Mohr baru sampai ke rumah tengah malam. Tetapi ia belum juga siap tidur. Ia menyalakan lilin, lalu mulai menulis sebuah syair tentang apa yang telah dilihatnya dan dirasakannya pada malam itu.

Keesokan harinya pendeta muda itu pergi ke rumah temannya. Franz Gruber, yang masih muda, adalah kepala sekolah di desa Arnsdorf, yang terletak tiga kilometer jauhnya dari Oberndorf. Ia pun merangkap pemimpin musik di gereja yang dilayani oleh Josef Mohr.

Pendeta Mohr lalu memberikan sehelai kertas lipatan kepada kawannya. “Inilah hadiah Natal untukmu,” katanya, “sebuah syair yang baru saja saya karang tadi malam.”

“Terima kasih, pendeta!” balas Franz Gruber.

Setelah mereka berdua diam sejenak, pendeta muda itu bertanya: “Mungkin engkau dapat membuat lagunya, ya? “

Franz Gruber senang atas saran itu. Segera ia mulai bekerja dengan syair hasil karya Josef Mohr.

Pada sore harinya, tukang orgel itu sudah cukup membersihkan ruang kebaktian sehingga gedung gereja dapat dipakai lagi. Tetapi orgel itu sendiri masih belum dapat digunakan.

Penduduk desa berkumpul untuk merayakan malam Natal. Dengan keheranan mereka menerima pengumuman, bahwa termasuk pada acara malam itu ada sebuah lagu Natal yang baru.

Franz Gruber sudah membuat aransemen khusus dari lagu ciptaannya — untuk dua suara, diiringi oleh gitar dan koor. Mulailah dia memetik senar pada gitar yang tergantung di pundaknya dengan tali hijau. Lalu ia membawakan suara bas, sedangkan Josef Mohr menyanyikan suara tenor.

Paduan suara gereja bergabung dengan duet itu pada saat-saat yang telah ditentukan. Dan untuk pertama kalinya lagu “Malam Kudus” diperdengarkan.

Tukang orgel turut hadir dalam kebaktian Malam Natal itu. Ia senang sekali mendengarkan lagu Natal yang baru. Mulailah dia bersenandung, mengingat not-not melodi itu dan mengulang-ulangi kata-katanya. “Malam Kudus” masih tetap bergema dalam ingatannya pada saat ia selesai memperbaiki orgel Oderndorf, lalu pulang.

Sekarang masuklah beberapa tokoh baru dalam ceritanya, yaitu: Strasser bersaudara. Keempat gadis Strasser itu adalah anak-anak seorang pembuat sarung tangan. Mereka berbakat luar biasa di bidang musik. Sewaktu masih kecil, keempat gadis cilik itu suka menyanyi di pasar, sedangkan ayah mereka menjual sarung tangan buatannya. Banyak orang mulai memperhatikan mereka, dan bahkan memberi uang atas nyanyiannya.

Demikian kecilnya permulaan karier keempat gadis Strasser itu, hanya sekedar menyanyi di pasar. Tetapi mereka cepat menjadi tenar. Mereka sempat berkeliling ke banyak kota. Yang terutama mereka tonjolkan ialah lagu-lagu rakyat dari tanah air mereka, yakni dari daerah pegunungan negeri Austria.

Tukang orgel tadi mampir ke rumah keempat Strasser bersaudara. Kepada mereka ia nyanyikan lagu Natal yang baru saja dipelajarinya dari kedua penciptanya di gereja desa itu.

Salah seorang penyanyi wanita menuliskan kata-kata dan not-not yang mereka dengarkan dari tukang orgel teman mereka. Dengan berbuat demikian mereka pun dapat menghafalkannya.

Keempat wanita itu senang menambahkan “Malam Kudus” pada acara mereka. Makin lama makin bayak orang yang mendengarnya, sehingga lagu Natal itu mulai dibawa ke negeri-negeri lain pula.

Pernah seorang pemimpin konser terkenal mengundang keempat kakak-beradik dari keluarga Strasser itu untuk menghadiri konsernya. Sebagai  atraksi penutup acara yang tak diumumkan sebelumnya, ia pun memanggil keempat wanita itu untuk maju ke depan dan menyanyi. Antara lain, mereka menyanyikan “Malam Kudus,” yang oleh mereka diberi judul “Lagu dari Surga.”

Raja dan ratu daerah Saksen menghadiri konser itu. Mereka mengundang rombongan penyanyi Strasser itu untuk datang ke istana pada Malam Natal. Tentu di sanapun mereka membawakan lagu “Malam Kudus.”

~ Anonymous

Silent night! holy night!
All is calm, all is bright;
Round yon virgin mother and Child,
Holy Infant, so tender and mild
Sleep in heavenly peace, sleep in heavenly peace.

Silent night! holy night!
Shepherds quake at the sight;
Glories stream from heaven afar;
Heav’nly hosts sing alleluia
Christ the Saviour is born!
Christ the Saviour is born!

Silent night! holy night!
Son of God, love’s pure light
Radiant beams from Thy holy face
With the dawn of redeeming grace
Jesus, Lord at Thy birth,
Jesus, Lord at Thy birth.

Sumber: http://www.gkigadser.org/index.php?option=com_content&view=article&id=118:sejarah-lagu-qmalam-kudusq&catid=45:komisi-musik-gereja&Itemid=78





Kare ENAK ala Chef Kaswanto

20 12 2011

Kangen dengan masakan  Gulai? Mo gulai ayam, ikan or daging?

Caranya buatnya guampang banget. Bagi mereka yang sekarang tinggal di Saijo. Langsung aja ke EVERY, beli bahan-bahannya. Gampang aja koq.

Bahan:

  1. Daging (Ikan, Ayam or Sapi), terserah banyaknya. Bagusnya setengah kilo aja.
  2. Bumbu Kare (liat fotonya yah) pake 1 sendok makan aja yah, kalo mo gurih bisa ditambah sesuai selera.
  3. Santan 1 kaleng. Kalo 1 kaleng full dipake, so pasti gulainya akan jadi gurih sesuai lidah Indonesia.
  4. Gula 1 sendok makan atau sesuai dengan selera.
  5. Garam dan Lada secukupnya.

Intinya sih, semuanya sesuai dengan selera. Mo gurih, tambahin bumbu kare dan santannya. Mo manis, tambahin gula. Mo pedas banget, tambahin sambal or bubuk cabe. Or kalo mo agak coklat warnya bisa tambah kecap manis.

Cara Memasak

  1. Rebus daging dalam air sedikit saja, masukan bumbu kare. Untuk daging yang agak keras, rebus dulu dengan air saja sampai daging empuk, baru masukin bumbu karenya.
  2. Masukan santan, masak hingga kental or sesuai selera.
  3. Masukan gula, garam dan lada.
  4. Test dulu duong. Ambil satu sendok kuahnya, terus cicip deh. Kalo kurang manis, tambahin gula.
  5. Kalo mo pedas, tambahin cabe bubuk.
  6. Kalo udah OK, siap disantap bersama dengan kerupuk. Santap selagi hangat!

Silahkan dicoba….

Semakin sering nyoba masak ginian, maka Anda dijamin bakal makin jago bikin gulai. :-)

Eh, foto bumbu karenya menyusul yah… tunggu aja..





Perjalanan Menembus Waktu

20 12 2011

Gw percaya, seluruh manusia di dunia ini pasti semuanya ingin kembali ke suatu masa di masa lalunya yang ingin dia rubah. Ada satu masa di masa silam yang ingin dia perbaiki. Entah mau dibatalkan, entah mau dilakukan, entah mau diulang ataupun entah mau dibuat lebih baik. Gw percaya ada satu titik di mana setiap manusia di bumi ini ingin memperbaiki satu kejadian di masa lalunya. Kalau ngga yakin dengan teori ini. Coba ambil waktu 30 detik dan bayangkan satu kejadian di masa lalu lu yang mau elu ubah. Apapun itu. Misalkan mau membatalkan pernah mencuri ayam tetangga, atau mau membatalkan kejadian yang memalukan. Ataupun juga ingin melakukan sesuatu yang dulu ragu-ragu untuk dilakukan. Atau ingin merayakan kesuksesan yang dulu pernah diraih dengan cara yang lebih baik. Atau ingin mengambil satu kesempatan yang dulu pernah hadir di hadapan elu, namun dulu elu abaikan. Ekstremmnya lagi, pernah melakukan kejahatan yang maunya dibatalkan sehingga tidak ada perasaan bersalah hingga saat ini. Nah, titik tersebutlah yang mau gw bahas di sini.

Teringat dengan film “Back to the Future”? Suka ngga ama film ini? Gw juga suka banget ama film ini. Film ini menceritakan impian besar manusia untuk menembus waktu. Cerita bagaimana si jagoannya bisa melakukan perjalanan menembus waktu. Film ini sangat disukai banyak orang, terbukti dengan dibuatnya sequel film ini ampe 3 biji. Luar biasa… Ini bukti juga kalo teori gw mendekati kenyataan dan bisa dibilang BETUL!!!

Teringat pula dengan teori “Butterfly Effect”? Dimana gara-gara menginjak kupu-kupu di masa lalu, situasi di masa kini menjadi berubah sama sekali. Perjalanan ke masa lalu berakibat fatal di masa depan hanya gara-gara hal sepele. Secara teori, gara-gara menginjak kupu-kupu itu semua proses dan mata rantai makanan menjadi berubah. Semua kejadian dalam rentetannya yang seharusnya terjadi menjadi tidak terjadi, sehingga terjadi chaos, kacau balau!

Teringat juga dengan film anime “Doraemon” yang dikirim untuk membantu Nobita agar di masa depannya menjadi orang yang lebih baik? Atau ingat film Terminator, tentang si Arnold yang dikirim ke masa lalu untuk mengubah masa depan? Singkatnya, jika suatu saat manusia bisa menciptakan mesin waktu maka mereka pasti akan ke masa lalu untuk mengubah sesuatu, atau pergi ke masa depan untuk melihat apa yang bisa diubah di masa sekarang.

Nah, perjalanan menembus waktu ini lah yang mau gw ulas secara lugas dalam blog gw ini. Jikalau elu bisa melakukan perjalanan menembus waktu, apa hal pertama yang mau elu lakukan? Silahkan dilist minimal 5 hal yang mau elu lakuin.

Silahkan…!!!





Meatball Pizzas

20 12 2011
Meatball Pizza

Source: http://www.parents.com/recipe/pizza/meatball-pizzas/

Ingredients
  • Sauce
    Store-bought or homemade marinara or pizza sauce
  • Toppings
    Cooked frozen meatballs
  • Halved cherry tomatoes
  • Halved mozzarella balls (see Note)
Make ItSpread the sauce and toppings on 4 mini pizza crusts (see Basic Pizza Dough recipe on www.parents.com); bake for 8 minutes at 425 degrees F.

Note
Note:  If you want the cheese to keep its shape, don’t add it until about 30 seconds before the pizza is done.

Source: http://www.parents.com/recipe/pizza/meatball-pizzas/








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,490 other followers